Sequence 01 – Jejak di Pasir Gresik
Pelabuhan Gresik, 1605
Angin laut menghembus lembut ke wajah Hassan, membawa serta bau asin ombak dan aroma rempah yang menyengat dari gudang-gudang kayu di pinggir pelabuhan. Burung camar berputar rendah di atas kapal-kapal asing yang baru berlabuh, sementara suara teriakan para juragan dan kuli angkut membentuk simfoni khas sore di pesisir.
Tapi hari itu, semuanya terasa lebih sunyi.
Hassan berdiri di tepi dermaga, memandang perahu kecil milik ayahnya yang sudah dua pekan ini terikat diam, layarnya dikunci, tak bergerak. Tak ada lagi suara nasihat dari bibir tua yang bijak, tak ada lagi diskusi panjang tentang naskah kuno, atau pertanyaan-pertanyaan aneh soal sejarah dan asal muasal manusia. Ayahnya—Syaikh Abdul Malik al-Jawi—ditemukan tewas dua pekan lalu di balik tumpukan karung kopi. Kata mereka: kecelakaan. Tapi Hassan tak percaya takdir sepicik itu.
Ayahnya tidak mati karena terpeleset. Ia dibungkam.
Pelabuhan ini menyimpan rahasia, dan Hassan yakin: seseorang melihat apa yang terjadi malam itu.
---
Dia berjalan menyusuri gang sempit di antara gudang, langkahnya mantap. Di sabuknya tergantung sebilah keris tua dengan sarung ukir halus. Bukan keris biasa—ini warisan. Tapi bahkan keris itu pun belum banyak bicara padanya.
Di balik gudang ketiga, ia menemukan yang dicarinya. Seorang lelaki tua berjubah lusuh tengah menghisap lintingan tembakau sambil bersandar pada karung.
"Abdi," sapa Hassan datar.
Lelaki itu memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rasa bersalahnya. "Nak Hassan... saya turut berdukacita. Benar-benar musibah yang—"
"Berhenti." Suara Hassan tajam. “Katakan yang sebenarnya. Ayahku tidak mati karena takdir. Kau tahu apa yang terjadi.”
Abdi menelan ludahnya. Suasana pelabuhan mendadak jauh.
“Aku… aku lihat mereka,” ucapnya pelan. “Tengah malam. Dua orang, tinggi besar, bukan orang sini. Bicaranya campur… Belanda, tapi juga Arab. Mereka masuk ke gudang. Tak lama kemudian… ayahmu menyusul. Lalu… aku dengar teriakan.”
“Dan kau diam?”
“Siapa aku, Nak? Cuma penjaga tua. Mereka bukan orang biasa. Bajunya aneh, ada lambang... semacam mata dengan pedang bersilang.”
Hassan terdiam. Matanya menyipit. Ia pernah melihat simbol itu—di salah satu manuskrip ayahnya. Simbol kuno, yang menurut ayahnya milik "mereka yang ingin membungkam dunia."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hassan mengambil kunci dari saku Abdi—kunci gudang. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan penjaga tua dalam diam.
---
Malam mulai turun ketika Hassan mendaki bukit menuju pesantren tua tempat gurunya, Kiai Ghozali, tinggal. Di sana, di bawah pohon beringin tua yang akar-akarnya menjulur seperti tangan dewa, ia menunggu.
“Sudah saatnya, ya?” ucap suara parau dari balik tirai malam.
Ghozali muncul, berjubah putih bersih, tongkat di tangan, wajahnya tenang seperti embun subuh.
“Ayahmu sudah tahu waktunya hampir habis,” lanjutnya. “Ia bukan hanya pedagang, Hassan. Ia adalah penjaga warisan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun di tanah ini.”
Hassan menatapnya, tak mengerti.
Ghozali membuka gulungan kain tua, dan di dalamnya… sebilah keris. Bukan keris biasa—mata bilahnya hitam kebiruan, dengan cahaya samar yang berdenyut pelan seperti jantung hidup.
"Ini… kerismu. Warisan darah. Warisan perjuangan. Lihat bagian pangkalnya."
Hassan mendekat. Di sana, samar tapi jelas… simbol yang sama. Mata. Pedang bersilang. Tapi kali ini, tertutup oleh tudung berjubah.
"Assassin," bisiknya.
“Darahmu… adalah darah mereka yang berjuang dalam bayang-bayang. Dan kini waktumu telah tiba.”
Comments
Post a Comment