Sequence 03 – Bayang di Balik Dinding Batavia


Batavia, 1606 M

Batavia di pagi hari bukan kota yang ramah. Udara pesisirnya panas dan lembap, jalanan sempitnya dipenuhi aroma keringat, bangkai ikan, dan asap tembakau. Di sudut-sudut kanal, anak-anak kampung bermain tanpa alas kaki, sementara orang-orang Eropa melintas di atas kereta kuda dengan wajah seolah mereka memiliki langit.

Hassan berjalan pelan, wajahnya tertutup sorban tipis, langkahnya ringan di atas bebatuan basah. Ia sudah beberapa hari menyamar sebagai buruh di pelabuhan belakang, mencari satu nama di antara tumpukan kemarahan: Salim al-Farisi.


---

Pertemuan di Lorong Gelap

Pertemuan mereka tidak terjadi di tempat mulia. Salim tidak menyambutnya dengan pelukan atau wejangan bijak. Ia muncul dari bayang-bayang lorong belakang rumah kopi, mata tajam, suara rendah.

"Kau anak Malik?" katanya pendek.

Hassan menatapnya penuh waspada. “Dan kau Salim al-Farisi?”

“Banyak yang menyebutku begitu. Tapi yang benar... aku sudah lama tak layak memakai nama itu.”

Senyap sejenak.

Salim akhirnya menyerahkan sebuah kantong kain kecil ke Hassan. Di dalamnya: ketapel kayu hitam pekat, dengan tuas kecil di bawahnya. Tapi bukan main-main. Ini senjata Assassin. Ringan, presisi, dan bisa melempar proyektil logam kecil seperti anak panah—dalam diam.

> “Senjata jarak jauh. Untuk bunuh dari bayang,” kata Salim.
“Kalau kau cukup sabar, ia akan lebih berguna dari pedang mana pun.”




---

Misi Awal: Target Pertama – Kapten Maarten van Gendt

Target Hassan bukan orang besar. Tapi dia adalah salah satu perwakilan militer VOC yang bertanggung jawab atas pengiriman tahanan lokal ke benteng kerja paksa. Termasuk, kabarnya... ulama dan guru pesantren yang pernah berhubungan dengan ayah Hassan.

Hassan mengintai dari atap rumah pedagang Cina, memantau aktivitas Maarten yang rutin datang ke kedai minum dekat Benteng Nassau setiap Rabu malam.

Salim berdiri di belakangnya.

> “Dia bukan Templar. Tapi dia tahu siapa yang membayar orang-orang untuk memburu manuskrip ayahmu,” kata Salim. “Dia penyambung rantai. Dan kadang… rantai harus diputus agar kau bisa melihat ke ujungnya.”




---

Penyusupan Malam Hari

Dengan hanya ketapel, keris, dan bayangan, Hassan melompat dari atap ke balkon belakang kedai. Di dalam, Kapten Van Gendt duduk, mabuk, tertawa keras.

Satu proyektil besi melesat. Melewati jendela terbuka, menembus sisi leher target—diam, bersih. Tubuhnya terjatuh ke meja tanpa banyak suara. Kekacauan meledak sesaat kemudian, tapi Hassan sudah lenyap ke atap sebelum mereka sadar.


---

Fakta Baru: Jejak di Peta

Di kamar pribadi Van Gendt yang disusup Salim malam itu, mereka menemukan peta tua—bukan milik VOC. Ini peta spiritual, lengkap dengan simbol dan garis-garis ley-line energi. Di pojoknya: lambang Templar yang sama, ditulis dengan tinta emas dan kaligrafi Arab terbalik.

> “Mereka mencari sesuatu,” gumam Salim.
“Sesuatu yang terkubur di bawah tanah Batavia. Dan... mereka tidak sendiri.”



Hassan menatap peta itu, pelan-pelan menyadari bahwa pembunuhan ayahnya... bukan soal manuskrip semata. Ini soal warisan. Tentang sesuatu yang jauh lebih tua, lebih berbahaya, dan lebih menggoda dari sekadar kekuasaan kolonial.


"Lompatan Pertama"

Lokasi: Menara Tua Masjid Luar Batang, Batavia

Setelah pembunuhan Van Gendt dan penemuan peta, Hassan dan Salim menyembunyikan diri di Luar Batang—wilayah yang dihormati tapi tak tersentuh VOC karena dianggap “kawasan angker”.

Malam itu, Salim membawa Hassan ke puncak menara masjid tua. Angin malam berhembus kencang, membelai sarung dan jubah mereka.

> "Ayahmu," ujar Salim sambil menatap ke bawah, "melakukan ini di Makkah, di atas menara tua yang dibangun oleh tangan para penjelajah dahulu. Kini giliranmu."



Hassan menatap ke bawah. Di bawah, hanya tumpukan jerami dan kanopi kayu tua. Jaraknya jauh. Gila.

> “Ini bukan tentang keberanian,” lanjut Salim. “Ini tentang keyakinan… bahwa kita tidak pernah sendirian di jalan ini. Bahwa bayangan pun punya sayap.”



Hassan diam. Napasnya berat. Lalu, dengan satu langkah…

Ia melompat.

Waktu terasa melambat. Dunia hening. Dan untuk sesaat, ia tak merasa takut. Hanya tenang, seperti air yang jatuh di tempat seharusnya.

Brak!
Tubuhnya jatuh ke jerami. Aman. Salim tertawa kecil dari atas menara.

> “Selamat, Hassan,” gumamnya. “Kini kau benar-benar Assassin.”

---

Akhir Sequence 03

Senjata Baru: Ketapel Assassin “Layang Tiwikrama”
Unlock Area: Distrik Pecinan, Kanal Batavia, Gudang Rahasia di Pelabuhan

Comments

Popular posts from this blog

Prolog – “Bayang yang Terlupakan”

Sequence 02 – Bayang-bayang di Bukit Giri