Prolog – “Bayang yang Terlupakan”
Lokasi: Jakarta, Indonesia. Tahun: 2025.
Langit Jakarta sore itu berwarna jingga tembaga, terpantul dari kaca-kaca pencakar langit yang dingin dan tak bersuara. Di lantai 47 gedung milik Abstergo Asia Research Division, seorang pemuda sedang duduk di depan perangkat berteknologi tinggi yang bentuknya seperti kapsul tidur.
Namanya Rayyan Ardiwijaya, 27 tahun, lulusan sejarah Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai asisten peneliti sejarah digital di bawah lembaga riset yang katanya independen. Tapi entah kenapa, Rayyan mulai curiga. Proyek tempat ia bekerja terlalu obsesif dengan satu nama dari abad ke-17: Hassan al-Jawi.
“Rayyan,” panggil seorang wanita bersuara datar dari belakang kaca pemisah laboratorium. “Hari ini kita mulai dengan fragmen genetik baru. Subjek: Leluhurmu sendiri.”
Rayyan mengernyit. “Tunggu… maksudnya aku?”
Wanita itu—Dr. Nadia Vries, ilmuwan berdarah Belanda—tersenyum tipis. “Iya. DNA-mu cocok 99% dengan subjek misterius yang kami sebut AJ-17. Kami butuhmu untuk masuk ke Animus dan membuka memori leluhurmu. Mungkin ini bisa menjawab sejarah yang selama ini tertutup kabut.”
Rayyan ragu. Ada bisikan aneh dalam pikirannya, seperti suara samar dalam bahasa yang setengah ia kenal.
“La tahzan, wahai dzurriyah. Perjalananmu belum selesai…”
Rayyan menghela napas dan masuk ke kapsul Animus. Tubuhnya perlahan tenggelam dalam cahaya biru, dan layar hologram mulai menampilkan riwayat genetik yang berputar cepat: pelabuhan, perang, bayangan candi, dan siluet seseorang dengan jubah panjang serta keris menyala dalam genggamannya.
SINKRONISASI DIMULAI…
LOKASI: PANTAI UTARA JAWA, TAHUN 1605.
Layar menjadi gelap. Lalu perlahan menampakkan seorang pria muda berpakaian sederhana, sedang berdiri di tengah kerumunan pelabuhan Gresik yang ramai. Di sabuknya, tergantung sebuah keris dengan ukiran aneh: simbol Assassin dengan aksen kaligrafi Arab.
Dan saat Rayyan tenggelam dalam tubuh Hassan al-Jawi untuk pertama kalinya… dia tidak tahu, bahwa Abstergo bukan hanya mencari sejarah—mereka mencari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Comments
Post a Comment