Sequence 02 – Bayang-bayang di Bukit Giri

Pondok Pesantren Giri Kedaton, Malam Hari


Langit gelap menggantung seperti kain beludru yang basah. Hujan baru saja reda, menyisakan tanah becek di sepanjang jalan setapak menuju puncak bukit. Di kejauhan, obor-obor kecil memancar dari pondok-pondok kayu yang terhampar rapi di sekitar masjid tua yang menghadap ke laut.


Hassan mendaki perlahan, menyusuri jalan batu menuju tempat yang disebut orang sebagai Giri Kedaton—bukan hanya pusat ilmu, tapi pusat kekuatan spiritual, dan bila bisik-bisik tua itu benar, tempat di mana perlawanan sejati terhadap penjajah tumbuh dalam diam.


Ia tiba di depan serambi masjid saat suara adzan Isya baru saja usai. Di bawah cahaya temaram lampu minyak, seorang lelaki tua duduk bersila, punggungnya tegap meski usia sudah di atas tujuh puluh. Jubahnya sederhana, wajahnya teduh, tapi tatapannya… tajam dan dalam seperti lautan.


Sunan Giri.


Ia menoleh pelan ke arah Hassan. "Anak Malik," ucapnya lirih. "Akhirnya kau datang juga."


Hassan mengangguk, masih menyimpan banyak tanya.


"Ayahmu menitipkan sesuatu padaku, jauh sebelum ajal menjemputnya," lanjut sang Sunan. "Ia tahu, suatu hari, kau akan mencari bukan hanya kebenaran... tapi jalan hidup yang takkan bisa kau tinggalkan."


Sunan Giri berdiri, lalu berjalan perlahan ke dalam sebuah ruang kecil di belakang masjid. Hassan mengikutinya dalam diam.



---


Di Ruang Dalam

Dindingnya dipenuhi rak buku tua dan kotak-kotak kayu. Sunan Giri mengambil satu kotak kecil dari atas rak dan membukanya.


Di dalamnya: sebuah logam pergelangan tangan berukir, tampak asing tapi elegan. Di tengahnya ada mekanisme tersembunyi. Sunan Giri mengenalkannya dengan satu nama:


> "Ini adalah Tangan Bayang, warisan dari para pengembara yang dulu datang lewat Samudra Hindia. Senjatanya... menyesuaikan dengan jiwa pemiliknya."




Ia memasangkan alat itu ke lengan kiri Hassan. Logamnya dingin tapi pas seperti sudah menantinya bertahun-tahun.


"Tekan dengan hatimu yang jernih," bisik sang Sunan.


Dengan sedikit tekanan jari, sebuah bilah muncul—tapi bukan bilah biasa. Ia melengkung dan berlekuk, seperti keris pendek. Bilahnya mengeluarkan suara khas: seperti napas lama yang terbangun dari tidur panjang.


Mata Hassan membelalak. Ini... adalah sesuatu yang melampaui senjata.


"Senjata ini bukan untuk membunuh," kata Sunan Giri. "Ia adalah simbol. Lambang bahwa kau berjalan dalam bayang, untuk menjaga cahaya."



---


Latihan Dimulai


Beberapa hari berikutnya, Hassan tinggal di Giri, menjalani latihan yang lebih dari sekadar bela diri. Ia belajar menyelinap, membaca niat dari gerak tubuh, dan menggunakan segala yang ada di sekitarnya sebagai alat. Tapi yang paling penting: ia belajar menguasai dirinya.


"Musuh terbesarmu," kata sang Sunan suatu malam, "bukan Belanda. Bukan Templar. Tapi hawa nafsu dalam dirimu yang ingin mencicipi kekuasaan seperti mereka."


Hassan mendengarnya dalam diam, menyadari bahwa jalan yang ia pilih... bukan jalan pendek.



---


Malam Terakhir di Giri


Di malam terakhir sebelum berangkat ke Batavia—tempat jejak para pembunuh ayahnya mengarah—Sunan Giri memanggil Hassan ke serambi.


"Ketika kau sampai di kota itu," katanya pelan, "carilah seseorang bernama Salim al-Farisi. Ia akan membawamu ke dalam labirin yang sebenarnya."


"Dan setelah itu?"


"Setelah itu, Nak... kau akan belajar bahwa kebenaran tak selalu putih atau hitam. Tapi di antara bayangan itulah para Assassins berjalan."



---


Akhir Sequence 02

Hassan kini resmi menjadi Assassin—dengan keris yang tersembunyi, dan hati yang terbuka.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog – “Bayang yang Terlupakan”

Sequence 03 – Bayang di Balik Dinding Batavia