Posts

Sequence 03 – Bayang di Balik Dinding Batavia

Batavia, 1606 M Batavia di pagi hari bukan kota yang ramah. Udara pesisirnya panas dan lembap, jalanan sempitnya dipenuhi aroma keringat, bangkai ikan, dan asap tembakau. Di sudut-sudut kanal, anak-anak kampung bermain tanpa alas kaki, sementara orang-orang Eropa melintas di atas kereta kuda dengan wajah seolah mereka memiliki langit. Hassan berjalan pelan, wajahnya tertutup sorban tipis, langkahnya ringan di atas bebatuan basah. Ia sudah beberapa hari menyamar sebagai buruh di pelabuhan belakang, mencari satu nama di antara tumpukan kemarahan: Salim al-Farisi. --- Pertemuan di Lorong Gelap Pertemuan mereka tidak terjadi di tempat mulia. Salim tidak menyambutnya dengan pelukan atau wejangan bijak. Ia muncul dari bayang-bayang lorong belakang rumah kopi, mata tajam, suara rendah. "Kau anak Malik?" katanya pendek. Hassan menatapnya penuh waspada. “Dan kau Salim al-Farisi?” “Banyak yang menyebutku begitu. Tapi yang benar... aku sudah lama tak layak memakai nama itu.” Senyap seje...

Sequence 02 – Bayang-bayang di Bukit Giri

Pondok Pesantren Giri Kedaton, Malam Hari Langit gelap menggantung seperti kain beludru yang basah. Hujan baru saja reda, menyisakan tanah becek di sepanjang jalan setapak menuju puncak bukit. Di kejauhan, obor-obor kecil memancar dari pondok-pondok kayu yang terhampar rapi di sekitar masjid tua yang menghadap ke laut. Hassan mendaki perlahan, menyusuri jalan batu menuju tempat yang disebut orang sebagai Giri Kedaton—bukan hanya pusat ilmu, tapi pusat kekuatan spiritual, dan bila bisik-bisik tua itu benar, tempat di mana perlawanan sejati terhadap penjajah tumbuh dalam diam. Ia tiba di depan serambi masjid saat suara adzan Isya baru saja usai. Di bawah cahaya temaram lampu minyak, seorang lelaki tua duduk bersila, punggungnya tegap meski usia sudah di atas tujuh puluh. Jubahnya sederhana, wajahnya teduh, tapi tatapannya… tajam dan dalam seperti lautan. Sunan Giri. Ia menoleh pelan ke arah Hassan. "Anak Malik," ucapnya lirih. "Akhirnya kau datang juga." Hassan mengan...

Sequence 01 – Jejak di Pasir Gresik

Pelabuhan Gresik, 1605 Angin laut menghembus lembut ke wajah Hassan, membawa serta bau asin ombak dan aroma rempah yang menyengat dari gudang-gudang kayu di pinggir pelabuhan. Burung camar berputar rendah di atas kapal-kapal asing yang baru berlabuh, sementara suara teriakan para juragan dan kuli angkut membentuk simfoni khas sore di pesisir. Tapi hari itu, semuanya terasa lebih sunyi. Hassan berdiri di tepi dermaga, memandang perahu kecil milik ayahnya yang sudah dua pekan ini terikat diam, layarnya dikunci, tak bergerak. Tak ada lagi suara nasihat dari bibir tua yang bijak, tak ada lagi diskusi panjang tentang naskah kuno, atau pertanyaan-pertanyaan aneh soal sejarah dan asal muasal manusia. Ayahnya—Syaikh Abdul Malik al-Jawi—ditemukan tewas dua pekan lalu di balik tumpukan karung kopi. Kata mereka: kecelakaan. Tapi Hassan tak percaya takdir sepicik itu. Ayahnya tidak mati karena terpeleset. Ia dibungkam. Pelabuhan ini menyimpan rahasia, dan Hassan yakin: seseorang melihat apa yang t...

Prolog – “Bayang yang Terlupakan”

Lokasi: Jakarta, Indonesia. Tahun: 2025. Langit Jakarta sore itu berwarna jingga tembaga, terpantul dari kaca-kaca pencakar langit yang dingin dan tak bersuara. Di lantai 47 gedung milik Abstergo Asia Research Division , seorang pemuda sedang duduk di depan perangkat berteknologi tinggi yang bentuknya seperti kapsul tidur. Namanya Rayyan Ardiwijaya , 27 tahun, lulusan sejarah Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai asisten peneliti sejarah digital di bawah lembaga riset yang katanya independen. Tapi entah kenapa, Rayyan mulai curiga. Proyek tempat ia bekerja terlalu obsesif dengan satu nama dari abad ke-17: Hassan al-Jawi . “Rayyan,” panggil seorang wanita bersuara datar dari belakang kaca pemisah laboratorium. “Hari ini kita mulai dengan fragmen genetik baru. Subjek: Leluhurmu sendiri.” Rayyan mengernyit. “Tunggu… maksudnya aku?” Wanita itu— Dr. Nadia Vries , ilmuwan berdarah Belanda—tersenyum tipis. “Iya. DNA-mu cocok 99% dengan subjek misterius yang kami sebut AJ-17 ...