Sequence 03 – Bayang di Balik Dinding Batavia
Batavia, 1606 M Batavia di pagi hari bukan kota yang ramah. Udara pesisirnya panas dan lembap, jalanan sempitnya dipenuhi aroma keringat, bangkai ikan, dan asap tembakau. Di sudut-sudut kanal, anak-anak kampung bermain tanpa alas kaki, sementara orang-orang Eropa melintas di atas kereta kuda dengan wajah seolah mereka memiliki langit. Hassan berjalan pelan, wajahnya tertutup sorban tipis, langkahnya ringan di atas bebatuan basah. Ia sudah beberapa hari menyamar sebagai buruh di pelabuhan belakang, mencari satu nama di antara tumpukan kemarahan: Salim al-Farisi. --- Pertemuan di Lorong Gelap Pertemuan mereka tidak terjadi di tempat mulia. Salim tidak menyambutnya dengan pelukan atau wejangan bijak. Ia muncul dari bayang-bayang lorong belakang rumah kopi, mata tajam, suara rendah. "Kau anak Malik?" katanya pendek. Hassan menatapnya penuh waspada. “Dan kau Salim al-Farisi?” “Banyak yang menyebutku begitu. Tapi yang benar... aku sudah lama tak layak memakai nama itu.” Senyap seje...